
LANGSA – Senin, 14 September 2026 Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan diwujudkan SMK Negeri 1 Langsa melalui aksi nyata. Bersama Aceh Wetland Forum (AWF), Kelompok Tani Hutan (KTH) Bakau Lestari dan sejumlah mitra, SMKN 1 Langsa menanam 1.000 bibit mangrove sebagai langkah awal pembangunan hutan konservasi sekaligus kawasan edukasi lingkungan bagi generasi muda. Kegiatan penanaman tersebut berlangsung di Desa Seuriget, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, Senin, 14 September 2026, dan menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Dies Natalis ke-66 SMKN 1 Langsa.
Penanaman mangrove tidak sekadar menjadi bagian dari perayaan ulang tahun sekolah, tetapi juga menjadi bentuk nyata komitmen SMKN 1 Langsa dalam menanamkan kesadaran lingkungan kepada para peserta didik melalui pembelajaran langsung di lapangan. Kepala SMKN 1 Langsa, Muhammad, S.ST., mengatakan kegiatan penanaman mangrove merupakan bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis ke-66 SMKN 1 Langsa yang berlangsung hingga 20 September 2026. “Penanaman mangrove ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-66 SMKN 1 Langsa. Kami ingin momentum dies natalis tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, rangkaian Dies Natalis ke-66 SMKN 1 Langsa tidak hanya diisi dengan kegiatan lingkungan, tetapi juga berbagai kegiatan yang melibatkan kreativitas dan partisipasi siswa. Rangkaian kegiatan tersebut di antaranya lomba vocal solo, lomba melukis, workshop eco print, bazar UMKM, jalan santai, serta berbagai kegiatan lainnya yang melibatkan keluarga besar SMKN 1 Langsa dan para mitra sekolah. Pada pelaksanaan penanaman mangrove, pihak sekolah juga memperoleh dukungan dari berbagai unsur, di antaranya aparatur Brimob Aramiah dan Polsek Langsa Barat, yang turut berpartisipasi dalam kegiatan konservasi tersebut.
Hutan Konservasi Jadi Ruang Belajar
Direktur Eksekutif Aceh Wetland Forum (AWF), Yusmadi, mengapresiasi langkah SMKN 1 Langsa yang berinisiatif membangun hutan konservasi mangrove untuk kepentingan edukasi lingkungan.
Menurut Yusmadi, pembangunan kawasan tersebut memiliki nilai strategis karena dapat dikembangkan sebagai ruang belajar bagi pelajar untuk mengenal ekosistem mangrove secara langsung.
“Ini sejalan dengan program kerja kami membangun hutan pendidikan sebagai pusat edukasi bagi para pelajar di Langsa,” kata Yusmadi.
Ia menjelaskan, keberadaan hutan mangrove memiliki manfaat yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar menjaga kelestarian lingkungan. Kawasan mangrove juga dapat dikembangkan sebagai tempat pembelajaran, penelitian dan pengenalan ekosistem pesisir kepada generasi muda. “Bagi AWF, hutan mangrove tidak saja penting untuk lingkungan, tapi juga menjadi bagian penting dari pusat edukasi dan penelitian,” ujarnya. Yusmadi menilai keterlibatan generasi muda dalam kegiatan konservasi merupakan hal penting. Pendidikan mengenai lingkungan, menurutnya, akan lebih bermakna apabila siswa mendapatkan pengalaman secara langsung di alam. “Karena menjaga lingkungan kita harus dimulai dari sisi pendidikan oleh anak-anak muda. Ini kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal lingkungan, hutan dan konservasi dengan lebih baik,” katanya.

Kolaborasi untuk Kelestarian Mangrove
Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Bakau Lestari, Husaini, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berinisiatif membangun hutan konservasi mangrove di Desa Seuriget. Menurutnya, penanaman 1.000 bibit mangrove tersebut merupakan langkah awal yang diharapkan dapat dilanjutkan dengan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan kawasan konservasi secara berkelanjutan. “Kami sangat mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih atas fasilitasi yang diberikan oleh AWF dan SMKN 1 Langsa, serta semua pihak yang terlibat,” demikian Husaini. Ia berharap kolaborasi antara sekolah, komunitas lingkungan, pemerintah, dunia usaha, aparat keamanan dan masyarakat dapat terus diperkuat sehingga kawasan hutan konservasi mangrove yang dibangun dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Bagi SMKN 1 Langsa, kegiatan tersebut sekaligus menjadi cara untuk mengajarkan kepada siswa bahwa menjaga lingkungan bukan hanya sebatas teori yang dipelajari di ruang kelas. Menanam satu bibit mangrove berarti memberikan kesempatan bagi generasi mendatang untuk menikmati ekosistem pesisir yang tetap terjaga. Melalui penanaman 1.000 bibit mangrove ini, semangat Dies Natalis ke-66 SMKN 1 Langsa pun diarahkan menjadi sebuah gerakan yang lebih bermakna: merayakan perjalanan sekolah dengan menanam kepedulian, membangun ruang belajar di alam, dan menjaga warisan lingkungan bagi generasi masa depan.
#diesnatalis66smkn1langsa
#smkn1langsahebat
#AcehWetlandForumAWF
#langsakotapesisirmanggrove
#@humassmkn1langsa




